Masih banyak “PR” yang Harus di Selesaikan Pebisnis E-Commerce untuk “Membahagiakan” Netizen Indonesia

Salah satu peneliti di University of Michigan menemukan fakta bahwa “Berbelanja adalah terapi baik untuk menghilangkan stres dan membuat seseorang lebih bahagia”. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa seseorang tiga kali lebih berbahagia ketika mereka membeli barang baru. Uniknya, ini tak hanya berlaku pada wanita tetapi juga pria. Insight menarik bagi pebisnis untuk berkontribusi terhadap kebahagiaan konsumen. 

ecommerce

Berkaitan dengan “kebahagiaan tersebut”, ada penemuan menarik lainnya terkait kegiatan belanja yang yang berhasil di-capture MARS Indonesia dalam riset konsumen bisnis E-Commerce di Indonesia. Kegiatan belanja sebelum era Internet of Things masih terbatas pada direct selling dan face to face, namun faktanya sekarang perilaku belanja telah berubah, konsumen belanja online di Indonesia telah mencapai 26,3 juta jiwa.  Jumlah konsumen online tersebut adalah “market share”  menarik untuk digarap oleh pebisnis E-Commerce di Indonesia, seperti Zalora, Shopee, Matahari Mall, Tokopedia, Elevenia, Bli-Bli, Lazada dan market player lainnya.

Meskipun jumlah konsumen online masih belum begitu besar, hal ini terkait beberapa hal yang masih menjadi “momok” bagi konsumen Indonesia ketika melakukan transaksi belanja online, seperti faktor “safety” hingga “quality” yang menjadi alasan utama masyarakat masih enggan belanja online. Sebanyak 57,1 persen masyarakat menganggap kekurangan belanja online dilatarbelakangi oleh resiko penipuan. Peran “customer experience” juga menjadi faktor lain netizen masih enggan melakukan belanja online. Hal tersebut dibuktikan sebanyak 51,5 persen masyarakat beranggapan bahwa kualitas barang tidak sesuai. Biaya ongkos kirim yang mahal ternyata juga menjadi alasan pendukung konsumen belum belanja online.

Selain itu, faktor keamanan dan kualitas produk juga masih menjadi “PR” besar bagi pebisnis E-commerce di Indonesia untuk memaksimalkan kebahagiaan konsumen, yang secara langsung akan berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnisnya. Penggunaan strategi yang tepat dan data yang akurat, akan memperbesar kesempatan key player E-commerce di Indonesia untuk menggiring 43 persen konsumen yang masih memilih berbelanja offline untuk beralih ke belanja online. Tidak hanya itu saja, menjaga kepercayaan pelanggan juga merupakan key success bagi pebisnis online untuk membuat netizen merasa bahagia ketika belanja online, sehingga berpeluang untuk menularkan “virus bahagia ketika belanja online” kepada kalangan terdekatnya. (wmp)