Inside MARS Indonesia

Agenda

January 2012
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

BUSINESS REVIEWS by:

Prof. Roy Sembel www.prof-roysembel.com

MARS Business Reports

By admin | April 7, 2010

STUDI KOMPREHENSIF TENTANG UMKM 2011

Potensi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di negara kita memang sangat besar. Selain populasinya yang menyebar, sektor ini juga memiliki daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai terpaan krisis ekonomi dibandingkan dengan usaha berskala besar. Buktinya, ketika usaha besar bertumbangan saat terjadi krisis ekonomi 1998 dan krisis global 2008, sektor UMKM malah tetap tegar.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per November 2010, porsi kredit mikro, kecil dan menengah (MKM) terhadap total kredit perbankan mencapai 53,13%, meningkat dari posisi akhir 2009 yang 51,28% atau akhir 2008 yang hanya 48,48%. Mendorong kalangan perbankan berminat terjun ke pembiayaan UMKM atau pasar mikro.

Didorong semakin dinamis dan menariknya pembiayaan sektor UMKM tadi, PT MARS Indonesia tahun 2011 ini secara khusus melakukan penelitian/survei pembiayaan UMKM di 4 kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar) dengan jumlah responden mencapai 1.147 orang dari kalangan pelaku UMKM, baik pemilik maupun pengelola. Tingkat kepercayaan sebesar 97,0% dengan margin of error kurang lebih 3,0%.

Survei ini mencoba memotret dari dekat pelaku UMKM berinteraksi yang meliputi pengelolaan kredit yang diberikan; bank mana saja yang menjadi pilihan utamanya; aset apa saja yang dijadikan agunannya; dari mana sumber angsuran kreditnya; berapa lama jangka waktu kredit yang dipilihnya; bagaimana mereka menyikapi suku bunga yang dikenakan. Selain perbankan apakah mereka juga mengakses lembaga keuangan non-bank? Kenapa dan berapa banyak jumlahnya?

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

STUDI EVALUASI KINERJA MEREK BANK DI INDONESIA 2006-2011

Kendati sebelum tutup tahun 2011 dunia dikejutkan oleh krisis ekonomi baru yang dipicu oleh krisis utang Eropa dan Amerika Serikat, tapi secara umum kondisi perekonomian Indonesia masih relatif stabil dan aman, walau bursa saham kita sempat dibikin cenat-cenut oleh IHSG yang naik-turun. Data BI menyebutkan, perkembangan ekonomi di berbagai daerah hingga akhir triwulan III 2011 terindikasi mengalami peningkatan dan diperkirakan masih akan mencatat angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari triwulan sebelumnya dan berada di atas 6% (yoy).

Kondisi perekonomian yang relatif stabil tersebut, tak pelak dimanfaatkan oleh para pengelola atau pemilik merek perbankan untuk mengembangkan pasar dengan merevitalisasi merek lama (rebranding) atau melakukan ekspansi. Mereka bersaing tidak hanya di area produk atau layanan, tetapi lebih jauh telah memasuki area persepsi konsumen dengan makin gencar melakukan aktivitas periklanan dan promosi lainnya. Persaingan pun menjadi semakin ketat.

Merespon dinamika pasar perbankan tersebut, PT MARS Indonesia—sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah berpengalaman lebih dari 19 tahun—melakukan terobosan dengan menerbitkan Studi Evaluasi Kinerja Merek Bank di Indonesia 2006-2011, yang merupakan kompilasi dari hasil Brand Performance Survey selama 6 tahun terakhir.

Dalam studi ini dipaparkan kekuatan merek (brand) sebagian besar bank, terutama yang menempati peringkat 20 besar Top of Mind Awareness (TOM), dengan metode perbandingan apple to apple baik berdasarkan variabel kota, usia, jenis kelamin, maupun SES. Adapun elemen yang diperbandingkan antara lain profil pasar, profil nasabah bank, perilaku nasabah, brand awareness, ad awareness, perceived quality, saticfaction and loyalty, brand referal, serta rencana  penggunaan bank ke depan.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK ELEKTRONIK 2011

Menurut data gabungan elektronik (gabel), pada tahun 2009, produk-produk elektonik dalam negeri hanya mampu menguasai 40% pangsa pasar, atau baru 12,7 triliun dari total omzet domestik menembus angka Rp 31,8 triliun. Kecilnya penguasaan produk lokal terhadap pasar elektronik dalam negeri akibat derasnya arus masuk elektronik impor.
Dipihak lain data 5 tahun terakhir memperlihatkan trend permintaan pasar elektronik lokal selalu tumbuh. Trend pertumbuhan 10% secara konsisten setiap tahunnya.

Ini merupakan potensi bagi merek-merek lokal untuk terus mengembangkan pasar. Untuk mendukung upaya tersebut, perlu dilakukan berbagai hal, dintaranya adalah pengembangan design dan teknologi produk, adanya standar mutu dan keamanan produk. Serta tak kalah pentingnya adalah terciptanya produk elektronik yang benar-benar sesuai selera dan kebutuhan pasar, karena pada akhirnya keputusan konsumen untuk membeli suatu produk elektronik sangat ditentukan oleh hal tersebut.

Dari hasil survey MARS dapat dilihat preferensi konsumen terhadap sebuah sebuah merek ternyata berbeda-beda, sehingga tidak ada satu merekpun yang betul-betul berhasil leading di semua kota. Hal ini tentu saja menarik karena semua pemain memiliki peluang untuk merebut pasar.

Untuk memahami hal-hal tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Elektronik 2010. Produk Elektronik yang dianalisis adalah kategori: Televisi, Vacuum Cleaner, DVD Player, Air Conditioner (AC), Radio Tape, Kulkas/lemari es, Water Dispenser, Pompa Air Listrik, Mesin Cuci, Penanak/penghangat listrik. Secara khusus semua produk tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK MINUMAN 2011

Persaingan di industri minuman dewasa ini semakin ketat, hal ini ditandai semakin banyaknya pelaku bisnis di industri ini dan kecenderungan peningkatan kapasitas volume produksi setiap tahunnya. Menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), industri minuman di Indonesia tumbuh semakin tinggi dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 10-11%. Peningkatan omzet terutama terjadi pada industri minuman kelas menengah.Selain persaingan dari sisi manufaktur, persaingan juga terjadi dalam mengakuisi konsumen. Untuk memenangkan persaingan, pengelola merek harus terus mengembangkan pasar, baik dengan merevitalisasi merek lama atau menciptakan merek baru. Kondisi ini membawa dampak terhadap perilaku konsumen dalam membeli dan menggunakan produk. Dengan semakin banyaknya pilihan produk di pasar, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih besar daripada sebelumnya.

Perubahan pasar dan perilaku konsumen ini diperkirakan mengubah peta dan kinerja merek. Fenomena ini menciptakan paradigma baru akan pentingya pengukuran kekuatan suatu Merek (Brand) -sebagai asset yang paling berharga – terhadap merek lainnya.

Melihat perkembangan tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Minuman 2011. Secara khusus produk-produk  minuman tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK KOSMETIKA 2011

Persaingan di industri kosmetika dewasa ini semakin ketat, hal ini ditandai semakin meningkatnya pertumbuhan industri kosmetika tiap tahunnya. Pada tahun 2010, industri kosmetika mengalami pertumbuhan sebesar 6%.Pada tahun 2011, pertumbuhan diperkirakan 6-10%, bahkan bisa saja melebihi 10%.

Terdapat perbedaan karakteristik konsumen dalam membeli produk kosmetika dan hal ini dipengaruhi oleh kota tempat tinggal, usia, jenis kelamin, bahkan kelas sosialnya. Misalnya, jumlah konsumen pil pelangsing lebih banyak pada kelompok usia 25-34 tahun, dibandingkan usia lainnya. Sementara itu, konsumen terbanyak yang akan membeli lipstick ternyata konsumen Surabaya. Begitu pula dengan tempat pembelian, dimana konsumen SES A lebih banyak yang membeli kosmetik di supermarket, sedangkan konsumen SES C lebih banyak membeli di minimarket.

Untuk memahami, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Kosmetika 2011. Produk kosmetika yang dianalisis adalah kategori: Krim/lotion pemutih wajah, susu pembersih muka, pelembab wajah, alas bedak, splash cologne, lipstick, hair gel, teh pelangsing, cairan penyegar wajah, bedak wajah, handbody lotion, masker bengkoang, dan pil pelangsing. Secara khusus produk-produk kosmetika tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK FARMASI 2011

Dunia farmasi saat ini berkembang pesat seiring dengan ditemukannya berbagai ramuan obat-obatan modern untuk mengobati berbagai macam penyakit. Di masyarakat terutama perkotaan, metode pengobatan mulai bergeser dari pengobatan dengan cara tradisional menjadi cara yang lebih modern. Obat-obat modern lebih disukai karena lebih mudah memperolehnya serta dikemas secara menarik dan higienis. Berdasarkan hasil riset MARS Indonesia tahun 2011, dari populasi yang mengalami sakit, sebanyak 89,5% melakukan pengobatan secara modern.

Sementara itu, hasil riset BPS pada tahun 2010 di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa sebanyak 59,6% masyarakat pernah menderita sakit. Jumlah ini tentu merupakan pasar yang sangat potensial bagi produsen produk-produk farmasi untuk memasarkan mereknya, apalagi jumlah penduduk Indonesia diproyeksi akan menembus sekitar angka 250 juta-an pada tahun 2015.

Mempertimbangkan pasar yang sangat potensial tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Farmasi 2011. Produk farmasi yang dianalisis adalah kategori OTC yaitu: Obat Flu, Obat Sakit Kepala, Obat Diare, Obat Maag, Obat Batuk, Obat Masuk Angin, dan Multivitamin/Suplemen Kesehatan Dewasa. Secara khusus produk-produk tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

PERILAKU BELANJA NASABAH BANK  2011

Nasabah bank di Indonesia ternyata memiliki perilaku belanja yang cukup dinamis. Dibanding tahun 2010, saat ini telah terjadi pergeseran. Nasabah BRI, misalnya, yang pada tahun lalu paling sering berkunjung ke pasar tradisional, saat ini  digeser oleh nasabah CIMB Niaga. Begitu pula nasabah BCA yang setahun lalu paling sering berkunjung ke minimarket kini digeser nasabah Mandiri. Pergeseran juga terjadi pada kunjungan ke supermarket dan hypermarket, yang kini justru didominasi masing-masing oleh nasabah BRI dan CIMB Niaga, menggantikan posisi nasabah BCA.

Di sisi lain, kunjungan nasabah bank ke pusat perbelanjaan seperti mall atau plaza juga mengalami pergeseran. Bila pada 2010 nasabah bank BUMN cenderung mendominasi kunjungan ke pusar perbelanjaan, maka kini posisi itu diambil alih oleh nasabah Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Namun demikian pergeseran tidak terjadi pada  kegiatan yang dilakukan di pusat perbelanjaan. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, kegiatan nasabah di sana tidak mengalami banyak perubahan, atau cenderung sama saja. Misalnya, nasabah bank BUMN dan BPD masih cenderung berbelanja di supermarket, sedangkan nasabah bank swasta cenderung belanja di counter pakaian.

MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 19 tahun, melakukan studi tentang perilaku belanja nasabah bank, yang isinya memotret perilaku nasabah ketika berbelanja, dan faktor-faktor yang juga mempengaruhinya seperti pendapatan dan sumbernya, disposable income, psikografis belanja, pola kunjungan ke pasar, pengaruh merek dan iklan, dan hal-hal lainnya.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:
Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com
Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE  2011

Seperti halnya tahun 2008 dan 2009, pada tahun ini MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Profile), yang berisi tentang berbagai data mendasar mengenai konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.

Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile 2008 dan 2009, pada terbitan tahun ini ada penambahan isi untuk lebih melengkapi, terutama informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia serta informasi tentang Kepemilikan Rumah dan Fasilitasnya. MARS menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, termasuk diantaranya adalah kota-kota yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain, yang selama ini tidak dicakup dalam setiap penelitian. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis yang selama ini menggarap bisnis di banyak kota di Indonesia.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:

Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com

Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

 

INDONESIAN SHOPPING BEHAVIOR  2011

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Bank Dunia disebutkan, dalam kurun tujuh tahun terakhir atau terhitung 2003–2010, sekitar 50 juta jiwa masyarakat Indonesia yang awalnya berpenghasilan kategori rendah, naik kelas menjadi berpenghasilan menengah. Tahun 2010, jumlah masyarakat golongan kelas menengah ditaksir mencapai 131 juta jiwa.

Fakta ini berbanding lurus dengan hasil survey MARS Indonesia terhadap 3.638 responden di 5 kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung Semarang, Medan) pada awal tahun 2011 ini. Status sosial ekonomi masyarakat atau konsumen kita mengalami pergeseran cukup signifikan, terutama konsumen di SES A dan B yang meningkat 13%, sementara konsumen di SES C dan D/E mengalami penurunan jika dibandingkan dengan survey tahun 2009 lalu.

Salah satunya penyebab pergeseran itu adalah kenaikan disposable income , bukan hanya akibat dari perubahan gaji yang diterima setiap bulannya. Hal itu mempengaruhi juga cara konsumen memanfaatkan Disposable Income.

Report ini sangat komprehensif dalam menganalisis perilaku belanja konsumen yang tengah mengalami perkembangan ekonomi dan keuangan yang lebih baik. Tersedia dalam skala nasional maupun per kota, per segmen pasar, bahkan per sektor industri.

Informasi selengkapnya silahkan menghubungi:

Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com

Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

 

 

STUDI TENTANG PROFIL DAN PERILAKU INVESTOR 2010

Hasil penelitian MARS menunjukkan bahwa jika dilihat dari jenis-jenis investasi yang dilakukan, ternyata oleh investor Indonesia masih sangat tradisional. Hampir 60% investor menggunakan instrument tabungan sebagai sarana investasi, sementara yang melakukan investasinya dalam bentuk saham (pasar saham) hanya 1,6%, reksadana 2,9%, dan unit link 4,1%. Yang menarik adalah bahwa 28,8% investor justru menginvestasikan dananya pada modal usaha, sementara yang mengalokasikan ke property hanya 21%.

Ketika kemudian ditanyakan tentang jenis investasi ke depan yang rencananya akan digunakan, reksadana menjadi produk yang paling diminati untuk  berinvestasi. Kalau pada kondisi sekarang baru 2,9% yang memiliki reksadana, yang tertarik untuk berinvestasi menggunakan sarana ini mencapai 7,5%. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa pasar reksadana di Indonesia dalam tahun-tahun mendatang diperkirakan  akan meningkat cukup pesat.

Studi yang sangat komprehensif ini mencakup perilaku investor di pasar saham, reksadana, pasar uang, unit link, property, dan juga emas.

Study ini dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yakni exploratory research dengan memanfaatkan data-data sekunder dari berbagai institusi, dan desciptive research dengan cara mewawancarai sejumlah responden (investor) secara langsung menggunakan questionnaire terstruktur.

Informasi selengkapnya silahkan klik:Daftar Isi dan Order Form (Buka / Download)

 

STUDI KOMPREHENSIF CONSUMER CREDIT INDONESIA 2010

Mengingat perkembangan kredit konsumsi yang sangat pesat, maka MARS Indonesia berinisiatif melakukan studi komprehensif tentang kredit konsumsi didasarkan atas data sekunder, wawancara pelaku usaha, dan data primer hasil wawancara dengan nasabah. Penelitian tersebut dilakukan di 3 kota, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Medan, dengan total sampel 1.198. Tidak hanya dua jenis kredit konsumsi utama yaitu Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang dibahas, tetapi juga Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multiguna, Kredit Barang Elektronik, dan Jasa Gadai.

Studi perilaku kredit konsumsi yang pertama kali diterbitkan oleh MARS Indonesia ini bertujuan untuk memberikan sebanyak mungkin informasi up-to-date tentang perilaku kredit konsumsi, sehingga dapat menjadi masukan bagi pelaku bisnis di sektor ini untuk menentukan strategi bisnis dan pemasarannya ke depan.

 

STUDI INDUSTRI, PASAR, & PERILAKU KONSUMEN KOPI DI INDONESIA 2010

Studi Industri, Pasar dan Perilaku Konsumen Kopi di Indonesia mengupas tuntas tentang dinamika bisnis kopi, baik dari sisi produsen dan produksi, perkembangan ekspor dan impor, dari sisi kebijakan pemerintah, dan yang terutama adalah dari sisi dinamika pasar dan tren perilaku konsumen kopi dewasa ini. Tak kalah penting, juga dibahas tentang perkembangan kopi di dunia internasional.

Dengan studi yang dikaji secara menyeluruh ini, baik dari segi analisis makro maupun dari sisi analisis mikro diharapkan memberikan konstribusi signifikan terhadap para decision maker dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat.

Informasi selengkapnya silahkan klik:Daftar Isi dan Order Form (Buka / Download)

 

STUDI INDUSTRI & PEMASARAN TELEKOMUNIKASI INDONESIA 2010

Industri Telekomunikasi adalah sektor yang paling dinamis pertumbuhannya, karena itu banyak yang menyebut sebagai the golden industry. Dalam sepuluh tahun terakhir angka pertumbuhan industri telekomunikasi terutama selular rata-rata mencapai 40% per tahun, bahkan pada periode tertentu berhasil tembus 70%.

Perkembangan pasar, perubahan perilaku konsumen, dan restrukturisasi sektor telekomunikasi nasional memberi peluang lebih besar bagi perusahaan telekomunikasi atau bahkan menjadi ancaman bergantung pada bagaimana perusahaan telekomunikasi tersebut mencermati perubahan situasi pasar yang tengah terjadi.

Studi ini membahas secara rinci mengenai 4 aspek kegiatan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia baik itu perubahan/perkembangan yang terjadi, profil dan perilaku konsumen, para pelaku bisnis, dan besaran pasar.

Informasi selengkapnya silahkan klik:Daftar Isi dan Order Form (Buka / Download)

 

PERILAKU BELANJA NASABAH BANK 2010 

Nasabah bank di Indonesia ternyata memiliki perilaku belanja yang berbeda-beda. Misalnya dalam hal kunjungan ke pusat perbelanjaan, nasabah bank swasta yang mengunjungi pusat perbelanjaan cenderung lebih banyak dibandingkan nasabah bank BUMN.

Selain kunjungan, kegiatan yang dilakukan di pusat perbelanjaan pun berbeda. Kegiatan nasabah bank BUMN di pusat perbelanjaan adalah berbelanja di supermarket sedangkan yang dilakukan oleh nasabah bank swasta belanja di counter pakaian.

MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 16 tahun, melakukan studi tentang perilaku belanja nasabah bank, yang isinya memotret perilaku nasabah ketika berbelanja, dan faktor-faktor yang juga mempengaruhinya seperti pendapatan dan sumbernya, disposable income, psikografis belanja, pola kunjungan ke pasar, pengaruh merek dan iklan, dan hal-hal lainnya.

Informasi selengkapnya silahkan klik:Daftar Isi  (Buka / Download)

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE 2009

Seperti halnya tahun 2008, pada tahun 2009 ini MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesia Consumer Profile), yang berisi tentang berbagai data mendasar tentang konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.

Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile 2008, pada terbitan tahun ini ada penambahan isi cukup signifikan, terutama informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia. MARS menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, termasuk diantaranya adalah kota-kota yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain, yang selama ini tidak dicakup dalam setiap penelitian.

Informasi selengkapnya silahkan klik:Daftar Isi dan Order Form (Buka / Download), Contoh Tampilan (Buka / Download)

Topics: New Product 2011 | 104 Comments »


« Previous Entries