Inside MARS Indonesia

Agenda

November 2014
M T W T F S S
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

MARS Indonesia

By admin | March 11, 2014

STUDI KREDIT KENDARAAN BERMOTOR DI INDONESIA 2014 

INDUSTRI otomotif nasional pada tahun 2013 kembali mencatat prestasi membanggakan. Untuk yang kedua kalinya, Indonesia berhasil mengungguli Thailand. Data ASEAN Automotive Federation (AAF) menyebutkan, sepanjang 2013 penjualan mobil di Indonesia, menembus angka 1.229.901 unit, atau meningkat 10,2% dari tahun 2012 yang mencapai 1.116.335 unit. Secara angka memang masih di bawah Thailand yang membukukan 1.330.672 unit. Namun secara ”pertumbuhan” kita di atas Thailand. Penjualan sepeda motor pun tetap mencetak rekor tertinggi di ASEAN selama beberapa tahun terakhir. Pada 2013 penjualan sepeda motor meningkat kembali menjadi 7.743.879 unit, atau tumbuh 9,62%. Bila ditambah dengan kinerja ekspor sebanyak 27.135 unit, maka total penjualan motor sepanjang 2013 mencapai 7.771.014 unit, alias tumbuh 8,8% dari 7.141.586 unit pada 2012.

Besarnya pasar otomotif di dalam negeri menarik kalangan perbankan nasional dan perusahaan multifinance untuk menyediakan fasilitas pembiayaan. Saat ini terdapat sekitar 85 bank dan 202 perusahaan multifinance yang menyediakan kredit kendaraan bermotor (KKB), baik kredit kepemilikan mobil (KPM) maupun kredit sepeda motor (KSM). Pada 2013 meski penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) mulai meningkat, tapi tak semua bank menikmatinya. Beberapa bank besar mencatat kenaikan penyaluran KKB begitu tinggi. Sementara industri multifinance nasional sepanjang 2013 berhasil menyalurkan pembiayaan (kredit) sebesar Rp348,02 triliun atau tumbuh 15,23% dari pencapaian tahun 2012 sebesar Rp302,05 triliun.

Pertumbuhan sektor otomotif beserta pembiayaannya yang dahsyat tersebut mendorong PT MARS Indonesia untuk kembali melakukan survei atau penelitian seputar Kepemilikan Kendaraan Bermotor dan Pembiayaan Otomotif atau Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Penelitian tersebut dilakukan pada awal tahun 2014 (Januari-Februari) di 5 kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan) dengan sebaran sampel sebanyak 1.896 sampel.

 Daftar isi Studi KKB 2014 (pdf)

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE 2014

Pada tahun 2014 MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Profile), yang berisi berbagai data mendasar konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi termasuk penggunaan internet. Selain itu juga tersedia informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia serta informasi tentang Kepemilikan Rumah dan Fasilitasnya serta data yang berkaitan dengan bahan bangunan.

Indonesian Consumer Profile 2014 disusun dengan sumber 2.600 responden dari 7 (tujuh) kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar dan Banjarmasin. Riset dilakukan pada periode April – Juni 2013.

Buku ini juga menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis yang selama ini menggarap bisnis terpusat hanya di beberapa kota di Indonesia.

 Daftar isi ICP 2014 (pdf)

 

STUDI MICRO BANKING DI INDONESIA 2014

Perkembangan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit mikro. Setiap tahun kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhan dan secara umum pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total kredit perbankan. Pada 2012 kredit UMKM tumbuh 20,50% atau mencapai Rp526,40 triliun. Hingga kwartal I 2013 pun pertumbuhannya masih kinclong. Namun, memasuki kwartal II 2013, pertumbuhan kredit UMKM agak tersendat. Sampai dengan Agustus 2013, kredit UMKM baru tumbuh 18,73% (yoy), dari Rp487,92 triliun pada Agustus 2012 menjadi Rp579,31 triliun. Pertumbuhan ini masih di bawah pertumbuhan kredit bank umum yang sebesar 22,16%.

Namun demikian, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pelambatan kredit mikro merupakan dampak sementara kondisi ekonomi domestik yang melambat. “Kalau ekonomi sudah stabil, bank akan ekspansi kredit mikro lagi,” tandasnya. Bagi bank, pembiayaan di sektor mikro cukup menarik karena menjanjikan yield yang tinggi. Marjin merupakan magnet yang menarik, karena bisnis bank juga ujung-ujungnya marjin. Di samping pasar yang masih luas, bagi bank (micro banking), kredit mikro adalah kredit dengan plafond yang tidak terlalu besar. Artinya bank tidak menaruh risiko yang begitu besar. Bandingkan dengan nilai produk kredit korporasi atau komersial, tentu nilai kredit mikro jauh lebih kecil. Bagi pengusaha UMKM kehadiran bank-bank yang masuk sektor ini juga sangat membantu dalam hal memenuhi kebutuhan modalnya, di sisi lain proses kredit di sektor mikro juga jauh lebih simple dan cepat walaupun masih tinggi di level rate.

Mengingat bisnis mikro sudah menjadi “gula” bagi bank-bank untuk mendekatinya, alhasil persaingan di antara mereka pun semakin sengit. Maka, MARS Indonesia merasa perlu untuk mengidentifikasi strategi dan langkah jitu bank-bank itu dalam upaya memenangi persaingan melalui survei “Studi Kredit Micro Banking di Indonesia” di 6 kota utama (Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar) pada kwartal I 2013 dengan jumlah responden mencapai 1.690 orang.

 Daftar isi Studi Micro Banking 2014 (pdf)

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK ELEKTRONIK 2014

Gabungan perusahaan elektronik Indonesia mencatat penjualan produk elektronik pada tahun 2013 naik 11% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menjadi Rp 38,5 triliun. Namun, angka ini masih jauh dibawah target yang diharapkan sebesar 15%. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini ikut berdampak pada kenaikan harga jual elektronik impor. Selain itu, harga jual elektronik lokal juga ikut naik karena sebagian besar komponen elektronik masih diimpor dengan menggunakan dolar AS yang menyebabkan biaya produksi juga ikut naik.

Meskipun demikian, untuk produk home appliances atau peralatan rumah tangga seperti kulkas, Air Conditioner (AC), TV, mesin cuci, dan sebagainya masih diburu masyarakat. Tren permintaan AC terus meningkat di berbagai kota di Indonesia sejalan dengan pertumbuhan properti dan perhotelan. Selama periode Januari-Oktober 2013 penjualan AC secara nasional mencapai 1,9 juta unit, naik 33% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,4 juta unit. Begitu juga dengan lemari es dan mesin cuci, tingkat penjualannya juga semakin meningkat pada tahun 2013.

Melihat perkembangan tersebut, MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, melakukan suatu studi yang bertujuan untuk melihat profil pasar dan perkembangan berbagai produk elektronik di Indonesia antara lain kompor gas portable, mesin cuci, lemari es, TV LCD, perangkat audio, AC (air conditioner), pompa air listrik dan penanak nasi. Riset dilakukan di 7 (tujuh) kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, dan Banjarmasin terhadap 2626 responden rumahtangga.

 Daftar isi Studi Elektronik 2014 (pdf)

 

STUDI PERILAKU BELANJA REMAJA INDONESIA 2014

Besarnya nilai pasar segmen remaja tentunya sangat menggiurkan terutama bagi pemasar yang membidik segmen tersebut. Kenapa menggiurkan? Selain dari sisi jumlah uang yang dibelanjakannya sangat besar, kelompok remaja juga termasuk kelompok dengan populasi yang besar.

Menurut data BPS jumlah remaja yang termasuk kelompok usia 13-21 tahun pada tahun 2013 mencapai hampir 46 juta atau 19% dari total penduduk. Namun tantangan untuk menggarap segmen ini juga terbilang besar. Segmen ini merupakan segmen yang masih dalam proses mencari identitas diri dan selalu ingin menunjukan eksistensi diri dilingkunganya. Maka perilaku yang kerap muncul dari remaja adalah keinginan untuk tampil beda. Dari sisi emosi, segmen ini memiliki emosi yang labil. Sehingga menjadi bagian yang sangat berpengaruh dalam memutuskan sesuatu termasuk dalam memilih merek. Tidak heran jika kelompok ini termasuk kelompok yang tingkat loyalitasnya cenderung rendah. Sehingga untuk membuat mereka loyal hampir dipastikan sulit, jika pengelola merek tidak pandai membaca apa yang diinginkan dan secara cepat menyediakannya di pasar.

Karena potensi dan sekaligus tantangannya yang cukup besar, maka MARS Indonesia berinisiatif untuk melakukan penelitian tentang perilaku remaja di 5 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan) dengan jumlah sampel 821 responden yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang remaja baik dari sisi demografi, psikografi, dan perilaku, kepada pengelola merek yang menyasar segmen remaja.

 Daftar isi Studi Perilaku Belanja Remaja 2014 (pdf)

 

PERILAKU BELANJA NASABAH BANK 2013

MARS Indonesia, seperti halnya tahun 2010 dan 2011, kembali menerbitkan studi tentang perilaku belanja nasabah bank, yang isinya memotret perilaku nasabah ketika berbelanja, dan faktor-faktor yang juga mempengaruhinya seperti pendapatan dan sumbernya, disposable income, psikografis belanja, pola kunjungan ke pasar, pengaruh merek dan iklan, dan hal-hal lainnya. Riset dilakukan di 5 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan) dengan jumlah sampel 904 responden.

Berdasarkan riset tersebut terungkap bahwa lebih dari 67% nasabah bank di Indonesia memiliki pendapatan yang tidak habis dikonsumsi atau pendapatan yang disisihkan (disposable income). Dari jumlah tersebut, sebagian besar nasabah (82%) menyimpan disposable income di bank. Selain itu, nasabah bank di Indonesia ternyata memiliki perilaku belanja yang cukup dinamis.

Dibanding tahun 2011, saat ini telah terjadi pergeseran. Nasabah CIMB Niaga, misalnya, yang pada dua tahun lalu paling sering berkunjung ke pasar tradisional, saat ini digeser oleh nasabah BRI. Begitu pula nasabah Mandiri yang dua tahun lalu paling sering berkunjung ke minimarket kini digeser nasabah BCA. Pergeseran juga terjadi pada kunjungan ke supermarket.

Masih dari hasil riset tersebut, terungkap pula bahwa tidak ada satu bank pun yang sangat kuat dibandingkan dengan bank lainnya. Implikasi dari semakin tipisnya perbedaan kekuatan adalah semakin mudahnya perpindahan nasabah dari satu bank ke bank lainnya. Ini juga berarti bahwa bank-bank harus semakin bekerja keras untuk meretensi atau mempertahankan loyalitas nasabahnya. Namun di sisi lain, semakin terbukanya peluang bagi bank-bank untuk mengakuisisi nasabah bank kompetitornya.

 Daftar isi Studi Perilaku Belanja Nasabah Bank  2013 (pdf)

 

PERILAKU BELANJA KONSUMEN INDONESIA 2013

Trend pertumbuhan ekonomi nasional terus membaik dalam beberapa tahun terakhir, dan Indonesia tercatat sebagai tiga negara terbesar pertumbuhan ekonominya pasca-krisis keuangan global, dimana mencapai 4,5% pada 2009 dan melonjak 6,02% pada tahun 2013 (triwulan ke-2). Semakin kuatnya laju pertumbuhan tersebut menciptakan kondisi yang lebih baik, terutama dalam hal kesejahteraan masyarakat. Alhasil, pendapatan masyarakat Indonesia turut terdongkrak naik.

Fakta ini ternyata sesuai dengan hasil survey tentang Perilaku Belanja Konsumen Indonesia, dimana status sosial ekonomi konsumen kita mengalami pergeseran cukup signifikan, terutama konsumen SES A dan B yang meningkat 12%, sementara konsumen SES C dan D/E mengalami penurunan dibandingkan dengan survey sebelumnya. Konsumen Indonesia memiliki heterogenitas yang cukup tinggi dikarenakan adanya perbedaan suku dan kedaerahan. Perbedaan ini menyangkut kebiasaan dan gaya hidup, terutama kebiasaan makan, gaya mengkonsumsi, bahkan perilaku konsumen dalam mengunjungi pusat perbelanjaan. Selain itu secara ekonomi, antara daerah ini juga ada perbedaan dalam daya beli, kepemilikan disposable income, dan lain-lain. Semua yang menyangkut aktivitas dan preferensi belanja dengan segala pernak-perniknya coba di-capture oleh survey ini.

Report ini merupakan hasil penelitian : • Di 5 kota besar : JAKARTA, SURABAYA, BANDUNG, SEMARANG, MEDAN. • Jumlah sampel 1.721 • Kelas sosial ekonomi ABCDE Dibandingkan dengan edisi perdana (2009) dan kedua (2011), maka report edisi ketiga ini lebih komplit dan komprehensif, karena berusaha menghadirkan realitas perilaku belanja terkini dari konsumen kita.

 Daftar isi Studi Perilaku Belanja Konsumen Indonesia  2013 (pdf)

 

STUDI KREDIT MIKRO NON PERBANKAN 2013

Tidak mudah bagi pelaku usaha mikro untuk mendapatkan pinjaman modal dari perbankan. Ketatnya aturan perbankan dalam pemberian pinjaman tercermin pada beratnya persyaratan yang harus dipenuhi pada saat melakukan pengajuan kredit. Mereka seringkali diperlakukan sama dengan pelaku usaha menengah dan besar pada saat mengajukan kredit.

Tersedianya jaminan atas pinjaman, adanya izin usaha yang resmi dan rencana pengembangan usaha adalah beberapa di antara persyaratan yang seringkali sulit dipenuhi oleh pelaku usaha mikro. Keterbatasan akses terhadap institusi perbankan ini, membuat kalangan pelaku usaha mikro menjadi bergantung pada institusi non perbankan untuk mendapatkan fasilitas bantuan modal usaha, yang bentuknya beragam mulai unit simpan pinjam, koperasi, hingga usaha perorangan berupa rentenir. Sifatnya yang lebih fleksibel dibandingkan perbankan, baik dalam hal persyaratan, jumlah pinjaman dan waktu pencairan dana, lebih sesuai dengan karakteristik pelaku usaha mikro.

Berdasarkan hal tersebut, PT MARS Indonesia secara khusus melakukan penelitian untuk melihat sejauhmana pelaku usaha mikro telah mendapatkan fasilitas kredit mikro guna membantu mereka dalam mengembangkan usahanya. Penelitian ini dilakukan di 6 kota besar di Indonesia (Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar) dengan jumlah responden mencapai 1.690 orang.

Survei ini bertujuan untuk melihat lebih dalam tentang lembaga non perbankan yang menjadi alternatif bagi pelaku usaha mikro untuk mendapatkan tambahan modal usaha, alasan pelaku usaha mikro memilih lembaga tersebut, perilaku sektor usaha mikro dalam memilih produk kredit dan bentuk kredit mikro yang dibutuhkannya, serta tingkat kepuasan mereka terhadap layanan yang diberikan lembaga non perbankan ini.

 Daftar isi Studi Kredit Mikro Non Perbankan  2013 (pdf)

 

STUDI PASAR & KINERJA PEMASARAN PRODUK MAKANAN 2013

Walau didera sejumlah masalah yang menurunkan kinerja industri makanan pada kuartal I/2013, pemerintah yakin sektor ini akan cepat bangkit dan tumbuh lebih baik pada kuartal II akibat naiknya permintaan. Pertumbuhan industri makanan minuman pada kuartal I tersendat karena banyaknya regulasi terkait pengadaan bahan baku industri makanan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, mengatakan pertumbuhan industri makanan pada triwulan I memang mengalami penurunan. Industri makanan turun 12,47 persen pada triwulan I 2013 dibandingkan triwulan IV/2012. Pertumbuhan industri makanan juga terhambat oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).Kenyataan dipasar, persaingan dari sisi manufaktur, maupun persaingan dalam mengakuisisi konsumen, berlangsung begitu serunya.

Untuk memenangkan persaingan, pengelola merek terus mengembangkan pasar, baik dengan merevitalisasi merek lama atau menciptakan merek baru. Kondisi ini membawa dampak terhadap perilaku konsumen dalam membeli dan menggunakan produk. Dengan semakin banyaknya pilihan produk di pasar, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih besar daripada sebelumnya.

Melihat perkembangan tersebut, MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar, melakukan suatu studi sekaligus riset yang bertujuan untuk melihat profil pasar dan perkembangan berbagai produk makanan di Indonesia. Hasil studi ini mencoba memperlihatkan antara lain pangsa pasar, profil dan perilaku konsumen, perbandingan kinerja pemasaran antar merek, awareness & knowledge, satisfaction & loyalty, serta rencana pembelian.

 Daftar isi Studi Produk Makanan  2013 (pdf)

 

STUDI PASAR & KINERJA PEMASARAN PRODUK KOSMETIK 2013

Persaingan di industri kosmetika dewasa ini semakin ketat, hal ini ditandai semakin meningkatnya pertumbuhan industri kosmetika tiap tahunnya. Pada tahun 2010, industri kosmetika mengalami pertumbuhan sebesar 6%. Pada tahun 2011, pertumbuhan diperkirakan 6-10%, bahkan bisa saja melebihi 10%.

Terdapat perbedaan karakteristik konsumen dalam membeli produk kosmetika dan hal ini dipengaruhi oleh kota tempat tinggal, usia, jenis kelamin, bahkan kelas sosialnya. Misalnya, jumlah konsumen pil pelangsing lebih banyak pada kelompok usia 25-34 tahun, dibandingkan usia lainnya. Sementara itu, konsumen terbanyak yang akan membeli lipstick ternyata konsumen Surabaya. Begitu pula dengan tempat pembelian, dimana konsumen SES A lebih banyak yang membeli kosmetik di supermarket, sedangkan konsumen SES C lebih banyak membeli di minimarket.

Untuk memahami dinamika itu, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Kosmetika 2013. Produk kosmetika yang dianalisis adalah kategori: Krim/lotion pemutih wajah, susu pembersih muka, pelembab wajah, alas bedak, splash cologne, lipstick, hair gel, teh pelangsing, cairan penyegar wajah, bedak wajah, handbody lotion, masker bengkoang, dan pil pelangsing. Secara khusus produk-produk kosmetika tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Produk Kosmetik  2013 (pdf)

 

STUDI ELECTRONIC BANKING BERBASIS KARTU 2013

ELECTRONIC BANKING (e-banking) atau ada juga yang menyebut e-channel, kini semakin mendapat perhatian serius dari kalangan perbankan. Banyak bank saat ini kian serius menggenjot transaksi elektroniknya, lantaran e-channel atau e-banking dianggap sebagai bisnis masa depan yang akan terus bersinar.

Produk e-banking ada yang dalam bentuk kartu (card) dan ada yang dalam bentuk bukan kartu (non card). E-banking dalam bentuk kartu sering juga disebut dengan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK). Selain kartu ATM. kartu ATM/debit dan kartu kredit, beberapa bank sudah memperlebar ragam instrumen pembayaran dengan uang elektronik atau electronic money (e-money) dan menikmati fee maupun floating money.

Dari sekitar 102 bank yang menggarap bisnis e-banking, terdapat 10 bank yang leading mengembangkan bisnis tersebut. Namun dari 10 itu ada 4 bank yang paling menguasai bisnis tersebut. Dengan pertumbuhan e-banking yang signifikan dalam lima tahun terakhir, menunjukkan tingkat kebutuhan masyarakat akan transaksi elektronik semakin tinggi, seiring dengan semakin gencarnya upaya bank-bank dalam mewujudkan masyarakat less cash society, seperti harapan Bank Indonesia.

Mengingat e-banking adalah bisnis masa depan, maka MARS Indonesia merasa perlu lebih awal untuk melakukan riset/penelitian secara komprehensif dan mendalam seputar produk/jasa perbankan tersebut. Tujuan dari riset yang dilakukan di 5 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan) pada Januari-Februari 2013 dengan sebaran 1.477 kuesioner ini adalah agar kami bisa menyuguhkan dan menawarkan data faktual kepada para stakeholder, terutama pelaku bisnis keuangan, regulator/pengambil kebijakan, eksekutif, legislatif, pengamat/ekonom, kalangan kampus/akademisi, maupun masyarakat luas yang in charge dengan isu-isu industri finansial dan moneter secara intens.

 Daftar isi Studi E-Banking Berbasis Kartu  2013 (pdf)

 

STUDI ELECTRONIC BANKING BERBASIS NON KARTU 2013 PERKEMBANGAN teknologi informasi dan komunikasi, memungkinkan nasabah melakukan berbagai transaksi perbankan yang sifatnya non tunai tanpa harus mendatangi lokasi kantor cabang ataupun mesin ATM. Hampir seluruh bank di Indonesia saat ini telah memiliki layanan electronic banking (e-banking), terutama yang berbasis non kartu. Melalui e-banking non kartu nasabah dapat melakukan transaksi secara cepat, nyaman, aman, tersedia sepanjang waktu, dan dapat dilakukan di manapun. Layanan e-banking memberi manfaat tidak hanya kepada nasabah tapi juga kepada bank. Bagi bank, manfaat yang paling terasa adalah biaya per transaksi yang jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya transaksi konvensional melalui kantor cabang dan ATM. Semakin besar jumlah transaksi yang dilakukan melalui media e-banking, akan semakin besar penghematan biaya yang diperoleh bank. Bank juga mampu melakukan ekspansi bisnis secara lebih cepat dan efisien. Layanan e-banking berbasis non kartu yang disediakan perbankan, yaitu phone banking, mobile banking, sms banking, dan internet banking, telah mulai dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil riset MARS Indonesia di 5 kota (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan) pada Januari-Februari 2013 dengan sebaran 1.477 kuesioner terungkap bahwa di antara layanan tersebut terlihat perkembangan yang paling pesat pada mobile banking/sms banking. 52,6% nasabah telah mengetahui tentang layanan mobile banking/sms banking yang tersedia ini. Sementara awareness untuk internet banking telah mencakup 38,7% dari nasabah, dan 36,1% untuk layanan phone banking.

 Daftar isi Studi E-Banking Berbasis Non-Kartu  2013 (pdf)

 

STUDI PASAR & KINERJA PEMASARAN PRODUK MINUMAN 2013 Indonesia saat ini menjadi tujuan alternatif pasar pengalihan dari negara-negara eksportir makanan dan minuman, khususnya dari negara-negara Asia, seiring krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat. Peningkatan target investasi didasarkan pada kondisi pasar Indonesia yang semakin besar dan menarik bagi investasi. Pertumbuhan industri makanan minuman di tahun 2013 diprediksi tetap seperti tahun 2012. GAPMMI memperkirakan industri makanan dan minuman mengalami pertumbuhan sama sebesar 8% sampai akhir tahun ini. Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) memperkirakan penjualan air minum kemasan di 2013 tumbuh 11% hingga 15% dibandingkan proyeksi tahun lalu. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan permintaan seiring kenaikan konsumsi air minum kemasan. Selain persaingan dari sisi manufaktur, persaingan juga terjadi dalam mengakuisi konsumen. Untuk memenangkan persaingan, pengelola merek harus terus mengembangkan pasar, baik dengan merevitalisasi merek lama atau menciptakan merek baru. Kondisi ini membawa dampak terhadap perilaku konsumen dalam membeli dan menggunakan produk. Dengan semakin banyaknya pilihan produk di pasar, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih besar daripada sebelumnya. Perubahan pasar dan perilaku konsumen ini diperkirakan mengubah peta dan kinerja merek. Fenomena ini menciptakan paradigma baru akan pentingya pengukuran kekuatan suatu Merek (Brand) -sebagai aset yang paling berharga– terhadap merek lainnya. Melihat perkembangan tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Minuman 2013. Secara khusus produk-produk minuman tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Produk Minuman  2013 (pdf)

 

STUDI PASAR & KINERJA PEMASARAN PRODUK FARMASI 2013 Dunia farmasi saat ini berkembang pesat seiring dengan ditemukannya berbagai ramuan obat-obatan modern untuk mengobati berbagai macam penyakit. Di masyarakat terutama perkotaan, metode pengobatan mulai bergeser dari pengobatan dengan cara tradisional menjadi cara yang lebih modern. Obat-obat modern lebih disukai karena lebih mudah memperolehnya serta dikemas secara menarik dan higienis. Berdasarkan hasil riset MARS Indonesia tahun 2012, dari populasi yang mengalami sakit, sebanyak 65% melakukan pengobatan secara modern. Sementara itu, hasil riset BPS pada tahun 2012 di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa sebanyak 62,7% masyarakat pernah menderita sakit. Jumlah ini tentu merupakan pasar yang sangat potensial bagi produsen produk-produk farmasi untuk memasarkan mereknya, apalagi jumlah penduduk Indonesia diproyeksi akan menembus sekitar angka 250 juta-an pada tahun 2015. Mempertimbangkan pasar yang sangat potensial tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK FARMASI 2013. Produk farmasi yang dianalisis adalah kategori OTC yaitu: Obat Flu, Obat Sakit Kepala, Obat Diare, Obat Maag, Obat Batuk, Obat Masuk Angin, dan Multivitamin/Suplemen Kesehatan Dewasa. Secara khusus produk-produk tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Produk Farmasi  2013 (pdf)

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE 2013 Seperti halnya tahun 2008, 2009, 2011, dan 2012 pada tahun 2013 MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Profile), yang berisi berbagai data mendasar konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi termasuk penggunaan internet. Selain itu juga tersedia informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia serta informasi tentang Kepemilikan Rumah dan Fasilitasnya serta data yang berkaitan dengan bahan bangunan. Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile sebelumnya, penerbitan Indonesian Consumer Profile 2013, sudah barang tentu yang kami gunakan adalah data terbaru, termasuk informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia. Buku ini juga menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis yang selama ini menggarap bisnis terpusat hanya di beberapa kota di Indonesia.

 Daftar isi ICP 2013 (pdf)

 

STUDI KOMPREHENSIF TENTANG CONSUMER CREDIT 2013

Meski pertumbuhan kredit secara keseluruhan pada tahun 2012 melambat, Bank Indonesia (BI) menilai permintaan kredit konsumsi masih tinggi. Hingga Agustus 2012, pertumbuhan kredit konsumsi cukup stabil di angka 19,9% (year on year) atau Rp749 triliun dibandingkan Juli 2012 sebesar 18,9% dan Juni 2012 sebesar 19,6%.

Padahal, per 15 Juni 2012 BI telah menerapkan aturan rasio kredit terhadap nilai aset (loan to value/LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan uang muka (down payment/DP) minimum untuk kredit kendaraan bermotor (KKB). Artinya, aturan kenaikan uang muka belum berdampak pada kredit konsumsi.

BI juga mengungkapkan, gejolak ekonomi global akibat krisis yang menimpa Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa serta ancaman krisis ternyata tidak mempengaruhi pengucuran kredit konsumsi oleh perbankan.

Melihat potensinya yang masih besar dipastikan semua bank dan juga perusahaan pembiayaan (multifinance) akan tetap membidik pasar kredit konsumsi. Akibatnya akan terjadi kompetisi sangat ketat antar bank maupun multifinance untuk memperebutkan pasar ini.

Karena itu demi memenangkan kompetisi ini, maka dibutuhkan strategi yang tepat. Agar strategi yang dibuat sesuai dengan target pasar yang dituju, maka memahami/mengenali nasabah dengan baik, baik itu profil demografi, motif memilih jenis kredit, dan perilaku penggunaan kredit konsumsi menjadi suatu keharusan.

Untuk kedua kalinya setelah 2010, MARS Indonesia kembali menyediakan data tentang “Consumer Credit” (KPR, KKB, Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan/KTA, dan Kredit Mutiguna/KMG), untuk kepentingan semua pelaku bisnis keuangan (perbankan dan multifinance) maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan. Tujuannya untuk memberikan sebanyak mungkin informasi dan data yang up-to-date tentang kredit konsumsi, sehingga dapat menjadi masukan berharga bagi pelaku bisnis di segmen kredit konsumsi untuk menentukan strategi bisnis dan aksi korporasi ke depan.

 Daftar isi Consumer Credit 2013 (pdf)

 

 

STUDI PASAR MOBILE BANKING & INTERNET BANKING INDONESIA 2012 Sebuah survei internasional mengungkapkan, bahwa 35% dari seluruh kegiatan online yang dilakukan di setiap rumah di seluruh dunia akan beralih ke layanan mobile banking. Diprediksi, nilai transaksi mobile banking akan naik dua kali lipat per tahun. Selanjutnya akan meningkat menjadi empat kali lipat setelah 2011. Begitu pula, jumlah pengguna internet banking di Asia Tenggara akan meningkat signifikan setiap tahun. Jumlah nasabah yang melakukan transaksi internet banking di 6 negara yang disurveinya naik dua digit dalam setahun. Data tersebut juga mengungkapkan, jumlah pengguna internet banking di Indonesia mengalami kenaikan hingga 72%. Saat ini hampir sebagian besar bank sudah mengaplikasikan layanan mobile banking dan internet banking. Agar investasi yang dikeluarkan kalangan perbankan tersebut menjadi efektif, maka mengenali, memahami perilaku nasabah dalam menggunakan fasilitas mobile banking dan internet banking adalah suatu keharusan. Berdasarkan hal tersebut, MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, melakukan studi tentang mobile banking dan internet banking, yang isinya mencoba memotret pengetahuan, pemahaman, dan perilaku nasabah ketika menggunakan fasilitas mobile banking dan internet banking. Survei ini dilakukan di 5 kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan) dengan jumlah responden mencapai 1.710 nasabah dari SES A dan B. Diharapkan, hasil dari studi ini dapat memberikan masukan bagi pihak perbankan dan pihak lainnya yang terkait dalam menyusun strategi yang akan dibuat.

 Daftar isi Mobile Banking dan Internet Banking 2012 (pdf)

 

STUDI KREDIT KENDARAAN BERMOTOR DI INDONESIA 2012 Tahun 2011 sangat spesial bagi industri otomotif Indonesia. Diawali dengan kecemasan atas pemberlakuan aturan pajak progresif, kenaikan bea balik nama, dan rencana pembatasan BBM, pasar otomotif nasional justru mencetak prestasi mengagumkan, yaitu menjadi yang terbesar di ASEAN untuk pertama kali. Sepanjang tahun lalu penjualan kendaraan bermotor roda empat atau mobil di Indonesia mencapai 894.164 unit (wholesale), tumbuh 16,93% dibandingkan dengan 2010 yang hanya 764.710 unit. Sementara penjualan sepeda motor mencapai 8.043.535 unit, atau naik 8,72% bila dibanding penjualan motor di tahun 2010. Besarnya pasar otomotif di dalam negeri tersebut menarik kalangan perbankan nasional untuk menyediakan fasilitas pembiayaan. Saat ini terdapat sekitar 85 bank yang menyediakan kredit kendaraan bermotor (KKB), baik kredit kepemilikan mobil (KPM) maupun kredit sepeda motor (KSM). Selain perbankan, lembaga keuangan yang banyak menyediakan pembiayaan otomotif adalah perusahaan pembiayaan (multifinance). Saat ini dari sekitar 194 perusahaan multifinance sebagian besar bergerak di sektor pembiayaan kendaraan bermotor, dan sebagian kecil pada pembiayaan konsumsi lainnya. Fenomenalnya perkembangan dan pertumbuhan sektor otomotif beserta pembiayaannya tersebut memantik minat PT MARS Indonesia untuk melakukan survei atau penelitian seputar Kepemilikan Kendaraan Bermotor dan Pembiayaan Otomotif atau yang lazim disebut Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Penelitian tersebut dilakukan pada awal tahun 2012 (Februari-Maret) di 4 kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan) dengan sebaran sampel sebanyak 1.643 sampel. Dari penelitian ini kami memperoleh banyak gambaran dan input yang cukup berharga seputar Profil Nasabah KKB, Pengetahuan, Kepercayaan dan Perilaku Nasabah KKB. Juga tingkat Kepuasan dan Loyalitas Nasabah KKB, serta prospek KKB ke depan.

 Daftar isi Studi KKB 2012 (pdf)

 

STUDI KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH DI INDONESIA 2012 Salah satu daya tarik dari KPR adalah pasarnya yang senantiasa tumbuh berkelanjutan, rata-rata di atas pertumbuhan kredit secara nasional. Tumbuhnya pasar ini dipicu oleh kebutuhan masyarakat akan pemenuhan tempat tinggal yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dengan peluang bisnis yang cukup menjanjikan, maka KPR merupakan produk favorit bagi pelaku bisnis perbankan. Akibatnya KPR kini menjadi salah satu produk perbankan dengan tingkat persaingan yang paling ketat di pasar perbankan konsumer. Dilihat dari peta penguasaan pasar, kelompok bank swasta dan bank pemerintah bisa dikatakan menguasai pasar sepenuhnya, yaitu dengan pangsa pasar sebesar hampir 97%. Kedua kelompok bank tersebut berbagi pasar secara berimbang dengan bank swasta 48,4% dan bank pemerintah 47,4%. Besarnya pasar KPR itulah yang membuat perbankan optimistis untuk terus menggenjot KPR. Melihat fakta-fakta mengagumkan tentang fenomenalnya perkembangan dan pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) maupun kredit kepemilikan apartemen (KPA) di negara kita, MARS Indonesia pada awal tahun ini (Februari-Maret 2012) berinisiatif melakukan penelitian secara khusus tentang pasar dan perilaku nasabah salah satu produk kredit konsumer tersebut. Tidak seperti dalam penelitian Consumer Credit sebelumnya, pada penelitian KPR/KPA kali ini isu-isu yang dimunculkan dan dikedepankan lebih lengkap dan up-to date. Mulai dari perkembangan bisnis KPR, profil nasabah KPR, awareness tentang KPR, penetrasi KPR, hingga pangsa pasar KPR dan potensi KPR di negara kita. Isu-isu yang rada sensitif, seperti suku bunga KPR serta kepuasan dan loyalitas nasabah terhadap layanan KPR juga tak luput dari sorotan. Isu-isu tersebut tentu saja sangat diperlukan oleh kalangan perbankan dan akan menjadi masukan dan bahan pertimbangan utama dalam pengambilan policy dan pembuatan strategi bisnis ke depan.

 Daftar isi Studi KPR 2012 (pdf)

 

STUDI PASAR KARTU KREDIT DI INDONESIA 2012 Industri kartu kredit berkembang pesat seiring dengan banyaknya bank yang menjadi penerbit kartu kredit. Bank-bank yang semula tidak terjun ke kredit konsumsi retail mulai ikut merambah ke bisnis kartu kredit. Saat ini di negara kita terdapat 20 penerbit kartu kredit, terdiri dari 4 bank pemerintah (3 bank umum dan 1 bank syariah), 7 bank swasta nasional, 3 bank asing, dan 6 bank campuran. Serta 5 penyedia jaringan yang diserbut prinsipal, yang seluruhnya merupakan institusi asing. Bank Indonesia (BI) mencatat, selama lima tahun terakhir (2007-2011) volume maupun nilai transaksi kartu kredit di dalam negeri terus menanjak. Selama 5 tahun terakhir terjadi pertumbuhan sebesar 61,92% untuk volume transaksi dan 151,51% untuk nilai transaksi. Karena pasarnya yang terus tumbuh tersebut, MARS Indonesia tergerak untuk melakukan penelitian seputar industri kartu kredit. Penelitian tersebut dilakukan pada awal tahun 2012 (Februari-Maret) di 4 kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan) dengan sebaran sampel sebanyak 1.643 sampel. Alhasil, fakta-fakta mencengangkan seputar industri kartu kredit pun kami dapatkan. Seperti misalnya, pasca kasus Citibank setahun lalu, banyak pihak berasumsi bahwa minat masyarakat terhadap kartu kredit akan anjlok secara drastis. Ternyata, berdasarkan hasil penelitian MARS ini terungkap bahwa sebagian besar konsumen kartu kredit (78,4%) masih menganggap keberadaan kartu kredit saat ini masih menarik. Sebaliknya nasabah yang menganggap kepemilikan kartu kredit sudah tidak menarik lagi hanya sekitar 21,6%. Tak hanya itu, isu-isu menarik lainnya juga tak luput dari bidikan penelitian kali ini, seperti awareness konsumen tentang kartu kredit, profil nasabah kartu kredit, pangsa pasar kartu kredit, pola transaksi menggunakan kartu kredit, juga asuransi kartu kredit, dan masih banyak lagi.

 Daftar isi Studi Kartu Kredit 2012 (pdf)

 

STUDI PASAR BANK SYARIAH 2012 Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, sebagai landasan legal formal yang secara khusus mengatur berbagai hal mengenai perbankan syariah di Tanah Air, maka pertumbuhan industri ini terasa melaju lebih kencang. Rata-rata pertumbuhan total aset perbankan syariah dalam 5 tahun terakhir mencapai 40%. Lalu penghimpunan DPK rata-rata mencapai 33,5% per tahun, dan penyaluran pembiayaan mencapai rata-rata 36,7% per tahun dengan FDR sebesar 95,7% pada akhir 2011. Melihat fakta-fakta tentang kinerja perbankan syariah selama 3 tahun terakhir, MARS Indonesia kembali mencoba mengkorelasikan dengan hasil riset tentang Consumer Banking yang dilakukan pada Juli-Agustus 2011. Pada survei ini MARS kembali melakukan analisis terhadap faktor yang mempengaruhi nasabah dalam memilih suatu bank, tingkat loyalitas terhadap bank, juga perilaku pemakaian dan pemanfaatan bank oleh nasabah, mulai dari nasabah bertransaksi dengan petugas bank hingga pemanfaatan berbagai fasilitas yang disediakan seperti e-banking. Hal ini sangat penting bagi kalangan perbankan syariah untuk mengetahui tingkat efektivitas pemanfaatan fasilitas yang disediakan dan harapan nasabahnya.

 Daftar isi Studi Bank Syariah 2012 (pdf)

 

STUDI KOMPREHENSIF TENTANG UKM 2012 Saat ini perbankan nasional yang terjun di pembiayaan sektor UMKM jumlahnya makin meningkat, ditaksir ada sekitar 80-90 bank. Hampir seluruh kategori bank saat ini masuk di segmen mikro. Didorong semakin dinamis dan massifnya pembiayaan pada sektor UMKM, PT MARS Indonesia untuk kedua kali melakukan penelitian/survei tentang mereka pada Januari-Februari 2012. Untuk kali ini lebih fokus pada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tanpa menyertakan usaha mikro. Dibanding penelitian tentang UMKM sebelumnya (2011), studi UKM sekarang ini lebih komprehensif, holistik, dan indepth (mendalam). Karena selain cakupan isunya yang lebih luas, sampelnya juga lebih besar yaitu meliputi 1.718 pelaku usaha yang tersebar di 8 kota (Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Medan dan Makassar). Substansinya pun tidak sekadar seputar pola interaksi pelaku UKM dan perbankan: yang meliputi bagaimana cara mereka mengajukan dan mengelola kredit yang diberikan; bank mana saja yang menjadi pilihan utamanya; berapa rata-rata besaran kredit yang diambil; aset apa saja yang dijadikan agunan; dari mana sumber angsuran kreditnya; berapa lama jangka waktu kredit yang dipilih; serta bagaimana mereka menyikapi suku bunga yang dikenakan? Akan tetapi di dalamnya bertambah substansi tentang profil pelaku UKM: bagaimana mereka mengelola usahanya; selain memasarkan produknya secara konvensional apakah mereka juga sudah mengadopsi pola pemasaran online; sejauhmana mereka mengakses layanan e-banking; lalu seberapa banyak yang sudah aware micro banking dan apa harapan mereka terhadap kualitas layanan micro banking saat ini? Selain itu, seberapa banyak yang sudah berbadan hukum?

 Daftar isi Studi UKM 2012 (pdf)

 

STUDI APLIKASI IT & POTENSI CLOUD COMPUTING PADA UKM 2012 UKM memang memiliki peran yang strategis, namun ketatnya persaingan terutama dalam menghadapi perusahaan besar, menjadikan UKM berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Apalagi sebagian besar UKM di Indonesia masih menggunakan cara-cara tradisional dan manual dalam menjalankan usahanya, terutama dalam aspek produksi, manajemen pemasaran dan keuangan. Tak pelak pelaku UKM dituntut agar lebih kreatif dan inovatif dalam menjalankan usahanya. Teknologi informasi yang berkembang demikian cepat membuka peluang-peluang bagi pelaku UKM untuk mengatasi kompkeksitas persoalan. Melalui teknologi informasi, UKM bisa menyamai akselerasi pertumbuhan usaha skala besar. Salah satu perkembangan teknologi informasi yang diharapkan dapat membantu dalam perkembangan UKM adalah teknologi cloud computing (komputasi awan). Dengan cloud computing akan menjadikan bisnis UKM lebih efisien, karena pelaku usaha tidak perlu investasi data center sendiri dan hanya membayar sesuai dengan apa yang digunakan kepada pengelola layanan cloud. Berdasarkan hal tersebut di atas, PT MARS Indonesia secara khusus melakukan penelitian untuk melihat sejauhmana tingkat pemanfaatan teknologi informasi di kalangan UKM dalam mendukung pengelolaan usahanya. Penelitian ini dilakukan di 8 kota besar di Indonesia (Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Medan, dan Makassar) dengan jumlah responden mencapai 1.718 pelaku UKM. Dari survei ini diketahui sejauhmana pola penggunaan teknologi informasi dalam mendukung usaha, yang meliputi: aplikasi apa saja yang telah digunakan dalam pengelolaan usaha; seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk pembelian, pengoperasian, dan pemeliharaan; sejauhmana pengetahuan pelaku UKM tentang teknologi cloud computing; dan dukungan pelatihan apa yang dibutuhkan seorang pelaku UKM untuk pengembangan usahanya.

 Daftar isi Studi Cloud Computing pada UKM 2012 (pdf)

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE 2012 Seperti halnya tahun 2008, tahun 2009 dan tahun 2011, pada tahun ini MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Profile), yang berisi berbagai data mendasar konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi termasuk penggunaan internet. Selain itu juga tersedia informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia serta informasi tentang Kepemilikan Rumah dan Fasilitasnya serta data yang berkaitan dengan bahan bangunan. Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile 2008 dan 2009, 2011, penerbitan Indonesian Consumer Profile 2012, sudah barang tentu yang kami gunakan adalah data terbaru, termasuk informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia. Buku ini juga menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis yang selama ini menggarap bisnis terpusat hanya di beberapa kota di Indonesia.

 Daftar isi ICP 2012 (pdf)

 

STUDI CONSUMER BANKING INDONESIA 2012 Industri perbankan mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak 1998, saat diundangkannya UU No.10/1998 tentang perbankan. Dan salah satu sektor perbankan yang pertumbuhannya sangat luar biasa adalah consumer banking, karena masyarakat yang tadinya kurang begitu familiar dengan industri perbankan tiba-tiba bergairah dan beramai-ramai menggunakan bank sebagai sarana penyimpan uang maupun transaksi keuangan. Consumer Banking merupakan segmen perbankan yang paling banyak digarap oleh perbankan dewasa ini. Jika portofolio perbankan diperbandingkan, maka akan didapati persentase portofolio untuk consumer banking relatif lebih besar dari segmen lainnya. Selama 2011, sebagaimana juga tahun 2009 dan 2010, kredit konsumsi (consumer loan) yang notabene produk andalan consumer banking, terus tumbuh pesat. Data Bank Indonesia menyebutkan, nilai kredit konsumsi mencapai Rp113 triliun hingga awal Agustus 2011 lalu, atau tumbuh 6,2% sepanjang tahun (ytd) dan 23,2% secara year on year (yoy). Agar consumer banking bisa memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan nasabah, maka mengetahui profil dan perilaku nasabah adalah suatu keharusan. Karena itu, MARS Indonesia kembali melakukan riset tentang consumer banking yang digelar Juli-Agustus 2011. Dari penelitian ini diketahui profil dan perilaku nasabah masing-masing bank, baik itu dari segi status sosial ekonomi, pendidikan, kelompok usia, dan lain-lain. Studi ini merupakan edisi keempat, setelah edisi pertama, kedua dan ketiga yang diterbitkan masing-masing pada tahun 1993, 1995 dan 2008 yang lalu. Dalam edisi ini cukup banyak penambahan informasi dan data, selain itu analisisnya lebih komprehensif.

 Daftar isi Consumer Banking  2012 (pdf)

 

STUDI KOMPREHENSIF TENTANG UMKM 2011 Potensi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di negara kita memang sangat besar. Selain populasinya yang menyebar, sektor ini juga memiliki daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai terpaan krisis ekonomi dibandingkan dengan usaha berskala besar. Buktinya, ketika usaha besar bertumbangan saat terjadi krisis ekonomi 1998 dan krisis global 2008, sektor UMKM malah tetap tegar. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per November 2010, porsi kredit mikro, kecil dan menengah (MKM) terhadap total kredit perbankan mencapai 53,13%, meningkat dari posisi akhir 2009 yang 51,28% atau akhir 2008 yang hanya 48,48%. Mendorong kalangan perbankan berminat terjun ke pembiayaan UMKM atau pasar mikro. Didorong semakin dinamis dan menariknya pembiayaan sektor UMKM tadi, PT MARS Indonesia tahun 2011 ini secara khusus melakukan penelitian/survei pembiayaan UMKM di 4 kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar) dengan jumlah responden mencapai 1.147 orang dari kalangan pelaku UMKM, baik pemilik maupun pengelola. Tingkat kepercayaan sebesar 97,0% dengan margin of error kurang lebih 3,0%. Survei ini mencoba memotret dari dekat pelaku UMKM berinteraksi yang meliputi pengelolaan kredit yang diberikan; bank mana saja yang menjadi pilihan utamanya; aset apa saja yang dijadikan agunannya; dari mana sumber angsuran kreditnya; berapa lama jangka waktu kredit yang dipilihnya; bagaimana mereka menyikapi suku bunga yang dikenakan. Selain perbankan apakah mereka juga mengakses lembaga keuangan non-bank? Kenapa dan berapa banyak jumlahnya?

 Daftar isi Studi UMKM 2011 (pdf)

 

STUDI EVALUASI KINERJA MEREK BANK DI INDONESIA 2006-2011 Kendati sebelum tutup tahun 2011 dunia dikejutkan oleh krisis ekonomi baru yang dipicu oleh krisis utang Eropa dan Amerika Serikat, tapi secara umum kondisi perekonomian Indonesia masih relatif stabil dan aman, walau bursa saham kita sempat dibikin cenat-cenut oleh IHSG yang naik-turun. Data BI menyebutkan, perkembangan ekonomi di berbagai daerah hingga akhir triwulan III 2011 terindikasi mengalami peningkatan dan diperkirakan masih akan mencatat angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari triwulan sebelumnya dan berada di atas 6% (yoy). Kondisi perekonomian yang relatif stabil tersebut, tak pelak dimanfaatkan oleh para pengelola atau pemilik merek perbankan untuk mengembangkan pasar dengan merevitalisasi merek lama (rebranding) atau melakukan ekspansi. Mereka bersaing tidak hanya di area produk atau layanan, tetapi lebih jauh telah memasuki area persepsi konsumen dengan makin gencar melakukan aktivitas periklanan dan promosi lainnya. Persaingan pun menjadi semakin ketat. Merespon dinamika pasar perbankan tersebut, PT MARS Indonesia—sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah berpengalaman lebih dari 19 tahun—melakukan terobosan dengan menerbitkan Studi Evaluasi Kinerja Merek Bank di Indonesia 2006-2011, yang merupakan kompilasi dari hasil Brand Performance Survey selama 6 tahun terakhir. Dalam studi ini dipaparkan kekuatan merek (brand) sebagian besar bank, terutama yang menempati peringkat 20 besar Top of Mind Awareness (TOM), dengan metode perbandingan apple to apple baik berdasarkan variabel kota, usia, jenis kelamin, maupun SES. Adapun elemen yang diperbandingkan antara lain profil pasar, profil nasabah bank, perilaku nasabah, brand awareness, ad awareness, perceived quality, saticfaction and loyalty, brand referal, serta rencana  penggunaan bank ke depan.

 Daftar isi Evaluasi Kinerja Merek Bank (pdf)

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK ELEKTRONIK 2011 Menurut data gabungan elektronik (gabel), pada tahun 2009, produk-produk elektonik dalam negeri hanya mampu menguasai 40% pangsa pasar, atau baru 12,7 triliun dari total omzet domestik menembus angka Rp 31,8 triliun. Kecilnya penguasaan produk lokal terhadap pasar elektronik dalam negeri akibat derasnya arus masuk elektronik impor. Dipihak lain data 5 tahun terakhir memperlihatkan trend permintaan pasar elektronik lokal selalu tumbuh. Trend pertumbuhan 10% secara konsisten setiap tahunnya. Ini merupakan potensi bagi merek-merek lokal untuk terus mengembangkan pasar. Untuk mendukung upaya tersebut, perlu dilakukan berbagai hal, dintaranya adalah pengembangan design dan teknologi produk, adanya standar mutu dan keamanan produk. Serta tak kalah pentingnya adalah terciptanya produk elektronik yang benar-benar sesuai selera dan kebutuhan pasar, karena pada akhirnya keputusan konsumen untuk membeli suatu produk elektronik sangat ditentukan oleh hal tersebut. Dari hasil survey MARS dapat dilihat preferensi konsumen terhadap sebuah sebuah merek ternyata berbeda-beda, sehingga tidak ada satu merekpun yang betul-betul berhasil leading di semua kota. Hal ini tentu saja menarik karena semua pemain memiliki peluang untuk merebut pasar. Untuk memahami hal-hal tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Elektronik 2010. Produk Elektronik yang dianalisis adalah kategori: Televisi, Vacuum Cleaner, DVD Player, Air Conditioner (AC), Radio Tape, Kulkas/lemari es, Water Dispenser, Pompa Air Listrik, Mesin Cuci, Penanak/penghangat listrik. Secara khusus semua produk tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Elektronik 2011  (pdf)

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK MINUMAN 2011 Persaingan di industri minuman dewasa ini semakin ketat, hal ini ditandai semakin banyaknya pelaku bisnis di industri ini dan kecenderungan peningkatan kapasitas volume produksi setiap tahunnya. Menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), industri minuman di Indonesia tumbuh semakin tinggi dari tahun ke tahun dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 10-11%. Peningkatan omzet terutama terjadi pada industri minuman kelas menengah.Selain persaingan dari sisi manufaktur, persaingan juga terjadi dalam mengakuisi konsumen. Untuk memenangkan persaingan, pengelola merek harus terus mengembangkan pasar, baik dengan merevitalisasi merek lama atau menciptakan merek baru. Kondisi ini membawa dampak terhadap perilaku konsumen dalam membeli dan menggunakan produk. Dengan semakin banyaknya pilihan produk di pasar, konsumen memiliki ekspektasi yang lebih besar daripada sebelumnya. Perubahan pasar dan perilaku konsumen ini diperkirakan mengubah peta dan kinerja merek. Fenomena ini menciptakan paradigma baru akan pentingya pengukuran kekuatan suatu Merek (Brand) -sebagai asset yang paling berharga – terhadap merek lainnya. Melihat perkembangan tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Minuman 2011. Secara khusus produk-produk  minuman tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Minuman 2011  (pdf)

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK KOSMETIKA 2011 Persaingan di industri kosmetika dewasa ini semakin ketat, hal ini ditandai semakin meningkatnya pertumbuhan industri kosmetika tiap tahunnya. Pada tahun 2010, industri kosmetika mengalami pertumbuhan sebesar 6%.Pada tahun 2011, pertumbuhan diperkirakan 6-10%, bahkan bisa saja melebihi 10%. Terdapat perbedaan karakteristik konsumen dalam membeli produk kosmetika dan hal ini dipengaruhi oleh kota tempat tinggal, usia, jenis kelamin, bahkan kelas sosialnya. Misalnya, jumlah konsumen pil pelangsing lebih banyak pada kelompok usia 25-34 tahun, dibandingkan usia lainnya. Sementara itu, konsumen terbanyak yang akan membeli lipstick ternyata konsumen Surabaya. Begitu pula dengan tempat pembelian, dimana konsumen SES A lebih banyak yang membeli kosmetik di supermarket, sedangkan konsumen SES C lebih banyak membeli di minimarket. Untuk memahami, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Kosmetika 2011. Produk kosmetika yang dianalisis adalah kategori: Krim/lotion pemutih wajah, susu pembersih muka, pelembab wajah, alas bedak, splash cologne, lipstick, hair gel, teh pelangsing, cairan penyegar wajah, bedak wajah, handbody lotion, masker bengkoang, dan pil pelangsing. Secara khusus produk-produk kosmetika tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Kosmetika 2011  (pdf)

 

STUDI PASAR DAN KINERJA PEMASARAN PRODUK FARMASI 2011 Dunia farmasi saat ini berkembang pesat seiring dengan ditemukannya berbagai ramuan obat-obatan modern untuk mengobati berbagai macam penyakit. Di masyarakat terutama perkotaan, metode pengobatan mulai bergeser dari pengobatan dengan cara tradisional menjadi cara yang lebih modern. Obat-obat modern lebih disukai karena lebih mudah memperolehnya serta dikemas secara menarik dan higienis. Berdasarkan hasil riset MARS Indonesia tahun 2011, dari populasi yang mengalami sakit, sebanyak 89,5% melakukan pengobatan secara modern. Sementara itu, hasil riset BPS pada tahun 2010 di seluruh Indonesia memperlihatkan bahwa sebanyak 59,6% masyarakat pernah menderita sakit. Jumlah ini tentu merupakan pasar yang sangat potensial bagi produsen produk-produk farmasi untuk memasarkan mereknya, apalagi jumlah penduduk Indonesia diproyeksi akan menembus sekitar angka 250 juta-an pada tahun 2015. Mempertimbangkan pasar yang sangat potensial tersebut, MARS Indonesia telah menyusun laporan Studi Pasar dan Kinerja Pemasaran Produk Farmasi 2011. Produk farmasi yang dianalisis adalah kategori OTC yaitu: Obat Flu, Obat Sakit Kepala, Obat Diare, Obat Maag, Obat Batuk, Obat Masuk Angin, dan Multivitamin/Suplemen Kesehatan Dewasa. Secara khusus produk-produk tersebut dianalisis berdasarkan: Profil Pasar, Perilaku Konsumen, dan Perbandingan Kinerja Pemasaran Antar Merek.

 Daftar isi Studi Farmasi 2011  (pdf)

 

PERILAKU BELANJA NASABAH BANK  2011 Nasabah bank di Indonesia ternyata memiliki perilaku belanja yang cukup dinamis. Dibanding tahun 2010, saat ini telah terjadi pergeseran. Nasabah BRI, misalnya, yang pada tahun lalu paling sering berkunjung ke pasar tradisional, saat ini  digeser oleh nasabah CIMB Niaga. Begitu pula nasabah BCA yang setahun lalu paling sering berkunjung ke minimarket kini digeser nasabah Mandiri. Pergeseran juga terjadi pada kunjungan ke supermarket dan hypermarket, yang kini justru didominasi masing-masing oleh nasabah BRI dan CIMB Niaga, menggantikan posisi nasabah BCA. Di sisi lain, kunjungan nasabah bank ke pusat perbelanjaan seperti mall atau plaza juga mengalami pergeseran. Bila pada 2010 nasabah bank BUMN cenderung mendominasi kunjungan ke pusar perbelanjaan, maka kini posisi itu diambil alih oleh nasabah Bank Pembangunan Daerah (BPD). Namun demikian pergeseran tidak terjadi pada  kegiatan yang dilakukan di pusat perbelanjaan. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, kegiatan nasabah di sana tidak mengalami banyak perubahan, atau cenderung sama saja. Misalnya, nasabah bank BUMN dan BPD masih cenderung berbelanja di supermarket, sedangkan nasabah bank swasta cenderung belanja di counter pakaian. MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 19 tahun, melakukan studi tentang perilaku belanja nasabah bank, yang isinya memotret perilaku nasabah ketika berbelanja, dan faktor-faktor yang juga mempengaruhinya seperti pendapatan dan sumbernya, disposable income, psikografis belanja, pola kunjungan ke pasar, pengaruh merek dan iklan, dan hal-hal lainnya.

 Daftar isi Perilaku Belanja Nasabah Bank 2011  (pdf)

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE  2011

Seperti halnya tahun 2008 dan 2009, pada tahun ini MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesian Consumer Profile), yang berisi tentang berbagai data mendasar mengenai konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.

Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile 2008 dan 2009, pada terbitan tahun ini ada penambahan isi untuk lebih melengkapi, terutama informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia serta

informasi tentang Kepemilikan Rumah dan Fasilitasnya. MARS menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, termasuk diantaranya adalah kota-kota yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain, yang selama ini tidak dicakup dalam setiap penelitian. Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku bisnis yang selama ini menggarap bisnis di banyak kota di Indonesia.

 Daftar isi ICP 2011  (pdf)

 

 

INDONESIAN SHOPPING BEHAVIOR  2011

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Bank Dunia disebutkan, dalam kurun tujuh tahun terakhir atau terhitung 2003–2010, sekitar 50 juta jiwa masyarakat Indonesia yang awalnya berpenghasilan kategori rendah, naik kelas menjadi berpenghasilan menengah. Tahun 2010, jumlah masyarakat golongan kelas menengah ditaksir mencapai 131 juta jiwa.

Fakta ini berbanding lurus dengan hasil survey MARS Indonesia terhadap 3.638 responden di 5 kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung Semarang, Medan) pada awal tahun 2011 ini. Status sosial ekonomi masyarakat atau konsumen kita mengalami pergeseran cukup signifikan, terutama konsumen di SES A dan B yang meningkat 13%, sementara konsumen di SES C dan D/E mengalami penurunan jika dibandingkan dengan survey tahun 2009 lalu.

Salah satunya penyebab pergeseran itu adalah kenaikan disposable income , bukan hanya akibat dari perubahan gaji yang diterima setiap bulannya. Hal itu mempengaruhi juga cara konsumen memanfaatkan Disposable Income. Report ini sangat komprehensif dalam menganalisis perilaku belanja konsumen yang tengah mengalami perkembangan ekonomi dan keuangan yang lebih baik. Tersedia dalam skala nasional maupun per kota, per segmen pasar, bahkan per sektor industri.

 Daftar isi Indonesian Shopping Behavior 2011  (pdf)

 

STUDI TENTANG PROFIL DAN PERILAKU INVESTOR 2010

Hasil penelitian MARS menunjukkan bahwa jika dilihat dari jenis-jenis investasi yang dilakukan, ternyata oleh investor Indonesia masih sangat tradisional. Hampir 60% investor menggunakan instrument tabungan sebagai sarana investasi, sementara yang melakukan investasinya dalam bentuk saham (pasar saham) hanya 1,6%, reksadana 2,9%, dan unit link 4,1%. Yang menarik adalah bahwa 28,8% investor justru menginvestasikan dananya pada modal usaha, sementara yang mengalokasikan ke property hanya 21%.

Ketika kemudian ditanyakan tentang jenis investasi ke depan yang rencananya akan digunakan, reksadana menjadi produk yang paling diminati untuk  berinvestasi. Kalau pada kondisi sekarang baru 2,9% yang memiliki reksadana, yang tertarik untuk berinvestasi menggunakan sarana ini mencapai 7,5%. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa pasar reksadana di Indonesia dalam tahun-tahun mendatang diperkirakan  akan meningkat cukup pesat. Studi yang sangat komprehensif ini mencakup perilaku investor di pasar saham, reksadana, pasar uang, unit link, property, dan juga emas.

Study ini dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yakni exploratory research dengan memanfaatkan data-data sekunder dari berbagai institusi, dan desciptive research dengan cara mewawancarai sejumlah responden (investor) secara langsung menggunakan questionnaire terstruktur.

Daftar isi Studi Investor Indonesia 2010  (pdf)

 

STUDI KOMPREHENSIF CONSUMER CREDIT INDONESIA 2010

Mengingat perkembangan kredit konsumsi yang sangat pesat, maka MARS Indonesia berinisiatif melakukan studi komprehensif tentang kredit konsumsi didasarkan atas data sekunder, wawancara pelaku usaha, dan data primer hasil wawancara dengan nasabah. Penelitian tersebut dilakukan di 3 kota, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Medan, dengan total sampel 1.198. Tidak hanya dua jenis kredit konsumsi utama yaitu Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang dibahas, tetapi juga Kartu Kredit, Kredit Tanpa Agunan, Kredit Multiguna, Kredit Barang Elektronik, dan Jasa Gadai.

Studi perilaku kredit konsumsi yang pertama kali diterbitkan oleh MARS Indonesia ini bertujuan untuk memberikan sebanyak mungkin informasi up-to-date tentang perilaku kredit konsumsi, sehingga dapat menjadi masukan bagi pelaku bisnis di sektor ini untuk menentukan strategi bisnis dan pemasarannya ke depan.

Daftar isi Studi Consumer Credit 2010  (pdf)

 

STUDI INDUSTRI, PASAR, & PERILAKU KONSUMEN KOPI DI INDONESIA 2010

Studi Industri, Pasar dan Perilaku Konsumen Kopi di Indonesia mengupas tuntas tentang dinamika bisnis kopi, baik dari sisi produsen dan produksi, perkembangan ekspor dan impor, dari sisi kebijakan pemerintah, dan yang terutama adalah dari sisi dinamika pasar dan tren perilaku konsumen kopi dewasa ini.

Tak kalah penting, juga dibahas tentang perkembangan kopi di dunia internasional.

Dengan studi yang dikaji secara menyeluruh ini, baik dari segi analisis makro maupun dari sisi analisis mikro diharapkan memberikan konstribusi signifikan terhadap para decision maker dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat.

Daftar isi Studi Industri & Konsumen Kopi 2010  (pdf)

 

STUDI INDUSTRI & PEMASARAN TELEKOMUNIKASI INDONESIA 2010

Industri Telekomunikasi adalah sektor yang paling dinamis pertumbuhannya, karena itu banyak yang menyebut sebagai the golden industry. Dalam sepuluh tahun terakhir angka pertumbuhan industri telekomunikasi terutama selular rata-rata mencapai 40% per tahun, bahkan pada periode tertentu berhasil tembus 70%.

Perkembangan pasar, perubahan perilaku konsumen, dan restrukturisasi sektor telekomunikasi nasional memberi peluang lebih besar bagi perusahaan telekomunikasi atau bahkan menjadi ancaman bergantung pada bagaimana perusahaan telekomunikasi tersebut mencermati perubahan situasi pasar yang tengah terjadi.

Studi ini membahas secara rinci mengenai 4 aspek kegiatan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia baik itu perubahan/perkembangan yang terjadi, profil dan perilaku konsumen, para pelaku bisnis, dan besaran pasar.

Daftar isi Studi Telekomunikasi 2010  (pdf)

 

 

PERILAKU BELANJA NASABAH BANK 2010 

Nasabah bank di Indonesia ternyata memiliki perilaku belanja yang berbeda-beda. Misalnya dalam hal kunjungan ke pusat perbelanjaan, nasabah bank swasta yang mengunjungi pusat perbelanjaan cenderung lebih banyak dibandingkan nasabah bank BUMN.

Selain kunjungan, kegiatan yang dilakukan di pusat perbelanjaan pun berbeda. Kegiatan nasabah bank BUMN di pusat perbelanjaan adalah berbelanja di supermarket sedangkan yang dilakukan oleh nasabah bank swasta belanja di counter pakaian.

MARS Indonesia sebagai perusahaan riset pasar independen dan telah memiliki pengalaman lebih dari 16 tahun, melakukan studi tentang perilaku belanja nasabah bank, yang isinya memotret perilaku nasabah ketika berbelanja, dan faktor-faktor yang juga mempengaruhinya seperti pendapatan dan sumbernya, disposable income, psikografis belanja, pola kunjungan ke pasar, pengaruh merek dan iklan, dan hal-hal lainnya.

Daftar isi Perilaku Belanja Nasabah Bank 2010  (pdf)

 

 

INDONESIAN CONSUMER PROFILE 2009

Seperti halnya tahun 2008, pada tahun 2009 ini MARS Indonesia kembali menerbitkan laporan tentang profil konsumen Indonesia (Indonesia Consumer Profile), yang berisi tentang berbagai data mendasar tentang konsumen Indonesia mulai dari profil demografi, pendapatan dan pengeluaran, profil belanja, profil keuangan dan perbankan, profil kesehatan, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.

Berbeda dengan Indonesian Consumer Profile 2008, pada terbitan tahun ini ada penambahan isi cukup signifikan, terutama informasi seputar konsumen di berbagai kota besar Indonesia. MARS menjabarkan tentang profil demografi, pendapatan, pengeluaran dan konsumsi, profil kesehatan, dan beberapa data lain tentang 23 kota besar di Indonesia, termasuk diantaranya adalah kota-kota yang tergolong secondary cities seperti Malang, Purwokerto, Tasikmalaya, dan lain-lain, yang selama ini tidak dicakup dalam setiap penelitian.

Daftar isi ICP 2009  (pdf)

 

 

Informasi selengkapnya mengenai berbagai report tersebut silahkan menghubungi: Firman 021-4897874, firman.kristiyono@marsindonesia.com Satria 08979355785, satria.afandi@marsindonesia.com

Topics: Uncategorized | 58 Comments »